Kamis, 28 Maret 2019

Kekerasan Terhadap Perempuan? Kok Lebay Banget, Sih..... (Part 1)

"Akhir-akhir ini, di zaman digital ini deh yaa.. kita tuh sering banget denger bahasan soal isu kekerasan terhadap perempuan. Orang-orang yang memperjuangkan hak perempuan tuh kayak berapi-api gitu.. Teriak-teriak, bilang kalo perempuan itu ditindas lah, bilang kalo perempuan itu kaum marginal lah... Ehm, terkesan menggambarkan kalau perempuan itu kaum yang lemah banget. Padahal, gue liat ibu gue biasa aja tuh, ga kayak lemah, malah lebih ngebos dari bapak gue. Gue liat temen cewe di kampus pada strong strong tuh, gaada yang tertindas sama cowok. Lebay banget deh.. Malah pemikiran kayak begitu sendiri yang jadi menstigma kalau perempuan itu lemah, padahal aslinya gak lemah!"
"Ga mau ah ada paham feminis.. Itu ideologi yang ngajarin cewek buat membenci cowok ya? Biar para istri jadi membangkang sama suami...? Biar mereka bisa memperdaya laki-laki..? Jangan-jangan laki-laki nanti dianggap gak beguna? Takut ah kalo cewek pada feminis, nanti pada gagah-gagah, serem-serem, sangar-sangar, cowok kalah..."
 



"Cewek yang udah kecuci otak sama paham kayak gitu jadi lebay, masa dicatcall atau dilirik pake tatapan mesum aja udah merasa dilecehin.. Jaman dulu lebih parah, ceweknya biasa aja tuh ga heboh teriak-teriak pelecehan. Dipegang-pegang dikit aja udah merasa diperkosa.. Oy, gak respect sama cewek yang beneran literally diperkosa tau gak.."







Pernah mikir kayak gitu?
Selamat.. artinya kamu telah.. salah kaprah!!! 😊😊😊😊😊😊😊😊😊😊😊😊😊





Tau cacat logika jenis strawman? Yup, di saat kamu salah mengartikan suatu argumen, agar argumennya bisa kamu serang. Pernah gak sih, saat kamu bilang ada cewe cantik/cowok ganteng ke pacar kamu, lalu pacar kamu langsung kayak "oh jadi gue jelek ya?"?? Nah kayak gitu tuh strawman fallacy. Maksud kamu apa, eh orang malah nangkepnya apa.. 🀣🀣





Pertama-tama, aku mau ngasih tau dulu nih definisi dari feminisme. Kalo menurut definisi dari Britannica, feminism is the belief in social, economic, and political equality of the sexes. Feminisme adalah kepercayaan terhadap kesetaraan secara sosial, ekonomi, dan politik bagi semua gender. Sedangkan kalo katanya Mirriam Webster, feminism is the theory of the political, economic, and social equality of the sexes. Artinya feminsime adalah teori tentang kesetaraan politik, ekonomi, dan sosial bagi semua gender. Yup, sesimpel itu. Jadi, kalau kamu percaya apabila laki-laki dan perempuan itu setara di mata politik, ekonomi, dan sosial, kamu adalah seorang feminis. Kalau kamu percaya kalau laki-laki itu ga lebih tinggi derajatnya dari perempuan, dan perempuan itu ga lebih tinggi derajatnya dari laki-laki, kamu adalah seorang feminis. Gak, feminisme bukan tentang perempuan, feminisme itu mencakup perempuan dan laki-laki.


Ya, sesederhana itu.


Image result for are you a feminist
Feminis bukan nih kamu?





Jadii, kalau kamu melihat orang yang berargumen di internet soal kesetaraan gender tapi sambil ngegas, terus argumennya penuh dengan logical fallacy, artinya kamu melihat seorang SJW (Social Justice Warrior) atau bahkan... feminazi!! (NB: baik SJW maupun feminazi merupakan ungkapan  pejoratif).


"Kok bisa? Namanya aja feminisme, dari kata female?"

"Gak kok. Feminisme bukan dari kata female, melainkan dari kata feminin. Asal muasalnya, pemikiran kuno peradaban manusia itu menganggap kalau sesuatu yang maskulin itu lebih kuat dari sesuatu yang feminin. Misal, cowok jadi tukang masak itu lebih lemah daripada cowok jadi pemain bola. Cowok ga boleh nangis, dan sebagainya."


Intinya sih, feminisme itu adalah sebuah pemikiran, tidak disertai dengan tindakan. Karena dia adalah sebuah pemikiran, feminisme gak ngedorong kamu untuk melakukan sesuatu. Semua orang yang percaya pada pemikiran feminisme itu beda-beda, memanifestasikan dirinya beda-beda, gaya mereka beda-beda, tindak tanduk mereka beda-beda, karena feminisme pada dasarnya gak mengajarkan sebuah tindakan. But anyway, tentang hal ini dibahas nanti aja deh, di postingan sendiri. Sekarang mending bahas soal kekerasan terhadap perempuan dulu! Tapi intinya, kamu sekarang jadi paham kan definisi soal feminisme? 


Nah, temen-temen, kalian tau gak sih, meski perempuan di sekitar kalian itu hidupnya merdeka-merdeka aja, tapi masih banyak perempuan di luar sana (yang gak kejangkau sama pandangan mata kalian) itu hidupnya tertindas?

Ah laki-laki juga tertindas, hidupnya keras.. kerja di luar.. cepet mati.. rawan dipukulin sesama laki-laki serem di luar sana...

Emang betul sodara-sodara, emang betul kehidupan cowok itu keras juga.. Makanya kita lagi bicara soal kesetaraan gender, bukan keunggulan perempuan di atas laki-laki. Poin yang ditekankan disini adalah: banyak perempuan yang menjadi subjek kekerasan karena dia adalah perempuan, dia membawa identitas feminin. Pelaku kekerasannya adalah orang yang memiliki identitas maskulin.  Yup, identitas maskulin itu lebih rawan melakukan kekerasan terhadap identitas feminin, dan ini bisa kita sebut dengan istilah: maskulinitas tak sehat.


Contoh: ketika seorang laki-laki merasa kalau harga dirinya sebagai pria itu akan hancur ketika dia menangis, atau harga dirinya akan semakin tertantang dan meningkat ketika dia berantem dan memukuli pria lain... ya, berarti dia menjalankan konsep 'maskulinitas tak sehat'. Orang-orang yang menjalankan konsep maskulinitas tak sehat ini jadi anti sama hal-hal yang feminin gitu, karena dianggapnya lemah. Akibatnya jadi gampang ngatain cowok lain 'banci' gara-gara dia misalkan gak main bola atau misalkan hobinya ngurus anak di rumah, nganggep perempuan itu lemah, dan pola pikir kayak gini bikin dia rentan sama perilaku kekerasan yang destruktif.


Jadi? Kesimpulannya? Cowok bisa jadi korban dari maskulinitas tak sehat ini. Bukan cuma cewek aja..


Kembali ke topik ya..

Orang-orang yang punya pola pikir toxic maskulinity atau maskulinitas tak sehat ini adalah faktor di balik banyaknya kekerasan terhadap perempuan. Kasus kekerasan fisik dan seksual terhadap perempuan itu jumlahnya b a n y a k b a n g e t di seluruh dunia. Bahkan di negara-negara Barat sekalipun. Mau di benua dan ras manapun sama aja, tetep aja ada. Makin parah kalau di negara berflower macam Indonesia. Karena bukan paper kuliah, data-datanya bisa kalian cari sendiri di internet ya 🀣🀣


Bayangin: kamu jadi rentan terhadap kekerasan karena kamu perempuan. Suatu identitas kamu yang udah melekat dari lahir, sama halnya seperti ras kamu. Ada orang di luar sana yang mikir kalau gender dia lebih tinggi derajatnya dari gender kamu. Ada orang di luar sana yang mikir, kalau simbol kekuatan mereka adalah ketika mereka berbuat kekerasan terhadap gender kamu. 


Kamu mungkin gak pernah liat hal seperti itu karena kamu tinggal di daerah perkotaan yang orangnya pada berpendidikan. Tapi inget: seluruh dunia ini gak sama kayak duniamu. Di daerah kecil, angka perkosaan begitu tinggi. Ada anak kecil diperkosa bapak atau kakaknya, ada perempuan masih kecil dijual ke pria pria hidung belang yang udah dewasa, ada anak kecil yang dipaksa nikah sama om om kemudian dibayar sejumlah uang. Ketika om ini udah 'bosen' sama si istri kecilnya, istrinya pun diceraikan dan dijual dengan harga murah karena sudah 'gak perawan'. Ada laki-laki yang biasa bercinta dengan banyak perempuan, tapi ketika menemukan perempuannya sudah gak perawan, lantas si perempuan dipukuli (padahal dia sendiri juga udah gak perawan)... Di kota besar, hal kayak gitu juga masih banyak. Tapi di balik pintu, orang luar gak ada yang tau. Kamu juga gak bisa liat. Karena di luar mereka keliatan baik-baik aja. Kita ga pernah bisa nilai seseorang dari luarnya aja, karena kita ga tau seperti apa mereka di balik pintu rumahnya, betul kan?πŸ˜₯πŸ˜₯πŸ˜₯

Kalo kita ngomongin soal kekerasan terhadap perempuan, emang bentuk yang paling buruk adalah kekerasan seksual, karena objek kekerasannya tuh jelas: the sex, itself. Meski ada juga kekerasan lainnya kayak misalnya siksaan fisik, cemoohan, larangan tak masuk akal untuk perempuan tapi kalau laki-laki dengan tak masuk akalnya malah dibolehkan, upah gak imbang antara laki-laki dan perempuan. Tapi dalam post ini, aku bahas soal kekerasan seksual aja ya.. kekerasan lain biarkan ditulis di postingan yang lain aja. Hehehe.


Rape culture (atau budaya perkosaan) itu adalah budaya yang "mirisnya" masih mengakar di Indonesia. Misal nih, aku baru aja baca berita disini. Sebuah berita yang ditulis tahun 2019, di era internet, tapi pola pikirnya masih kayak zaman pertengahan. Ketika seorang laki-laki memerkosa, maka itu adalah salah korbannya yang berpakaian terlalu terbuka? Cara menanggulanginya adalah meminimalisir penggunaan pakaian terbuka?? Jangan sering memamerkan aurat?? Jangan berjalan sendirian malam-malam?? Jangan sering keluar sendirian???????


(ALERT: Aku gak mendorong perempuan untuk bebas berpakaian terbuka. GAK GITU. POINNYA BUKAN ITU. Tolong jangan gunakan strawman fallacy ya guys).


Poinku adalah, kalau korbannya terus yang disalahin, maka sang pelaku pemerkosaan akan bebas petantang petenteng "HeHeHe ini kan bukan salah gueee! Itu kan naluri lelaki, iya gak?? Bebas dong, namanya lelaki. Laki-laki ga salah dong kalo dikasih yang kayak begitu masa dididemin aja.." kalau banyak kaum rapist yang berpikiran kayak gini, akhirnya kasus perkosaan di dunia ini jadi ga kelar-kelar. Muteeer aja terus, dan terjadi lagi dan lagi. Soalnya 'naluri lelaki emang begitu, gak bisa diapa-apain. Perempuan dong yang menahan diri untuk gak keluar malem sendirian, gak pakai pakaian terbuka.'


Kenapa harus perempuan yang menjaga diri, bukan mereka yang menjaga birahi?? Kalau pola pikir masyarakat tetep minta perempuan yang jaga diri, bukan cowok yang jaga hawa nafsu, kapan dunia ini jadi berkembang dan progresif sehingga terjadi revolusi mental di kalangan lelaki dimana mereka bisa lebih menjaga syahwatnya???


"Si korban pakaiannya terbuka sih, gak tau tempat!! Si korban jalan sendirian sih, kan perempuan!! Si korban terlalu menggoda!! Cowok mana yang nolak kalau dikasih kayak gitu? Ibarat kucing dikasih ikan asin?"

Astagaa!! Pola pikir jahiliyah abad pertengahan masih aja dibawa-bawa. Kalian tau nggak, laki-laki di abad pertengahan ke bawah itu harga dirinya tinggi banget. Pada masa itu, perempuan gak boleh ikut pemilu, gak boleh nerima warisan, anak itu milik ayahnya dan bukan milik ibunya, perempuan cuma mesin anak, laki-laki bersikap dingin dan cuek terhadap perempuan.

Pola pikir kayak di atas ini, selain merendahkan perempuan, merendahkan laki-laki juga. Emangnya laki-laki itu semonster itu apa, sampe gak bisa ngendaliin nafsunya? Sampe-sampe perempuan harus menjaga diri dari laki-laki, seakan-akan laki-laki itu jahat banget gitu lho?


Tuh kan, katanya mau ada kesetaraan gender, katanya mau perempuan di seluruh dunia bisa hidup merdeka, tapi pola pikirnya kok masih victim blaming (menyalahkan korban) sih?


Image result for medieval era
Victim blaming? Balik aja ke jaman Medieval!!





Jadi kalau kamu peduli pada nasib perempuan di seluruh dunia, mulailah mengedukasi orang tentang kesetaraan gender. Karena orang terdekatmu bisa aja jadi korban berikutnya! Enggak mau kan? Nih, ada tips-tipsnya:





1. Ketika ada kasus pelecehan seksual/pemerkosaan dan ada yang nyalahin korbannya, ingetin baik-baik kalau itu salah pelakunya yang ga bisa ngendaliin nafsu. Iya tau, semua orang punya nafsu. Tapi manusia diberi akal untuk mengendalikan diri, siapa yang nyuruh akal gak dipake?





2. Ingetin mereka, kalau kita terlalu sering membela pelaku, maka bibit-bibit pemerkosa lainnya akan merasa 'bebas'.. ya udah, yuk lakuin lagi! Lecehin orang lagi. "Kita gak salah kok, ini naluri lelaki.. Kita lanjut terus aja, terus salahin korbannya.. Aman kok kita."





3. Jangan biarkan pengetahuan berharga mengenai kesetaraan gender ini hanya berhenti di kamu, sampaikanlah risalah ini kepada orang-orang yang belum terpapar hidayah ini. Ketika ada orang yang masih suka nyalahin korban perkosaan, atau menumpukan beban agar tidak diperkosa kepada perempuannya aja, tolong edukasi dengan baik dan benar supaya pola pikir mereka berkembang.





4. Beritahu orang tenang konsep 'konsensual'. Bahwa batas tipis antara pelecehan seksual dan bukan pelecehan seksual adalah PERSETUJUAN DARI PIHAK LAIN. Simpel, kalo pihak lain sama-sama suka, artinya bukan pelecehan seksual. Kalau dia gak suka atau gak setuju, artinya pelecehan. Simpel.





5. Pahami kalau bibit-bibit pelecehan seksual itu sesederhana perilaku-perilaku 'sepele' yang normal di abad pertengahan macam: meraba-raba bagian privat orang lain, memegang bagian tubuh orang yang harusnya tidak kamu pegang, mengintip bagian tubuh yang seharusnya tidak diintip, mencium orang yang tidak pengen dicium, memeluk orang yang tidak pengen dipeluk, menatap dengan tatapan mesum yang membuat orang menjadi tidak nyaman, melontarkan candaan berbau seksual kepada orang lain yang tidak menyukai hal tersebut, catcalling alias melontarkan panggilan menggoda yang bikin orang gak nyaman. Pada umumnya hal di atas dilakukan hanya dari cowok ke cewek, tapi kenyataannya gak selalu begitu, dan meski bukan dari cewek ke cowok hal tersebut tetaplah salah.

Nahh itulah dia sekilas tentang isu-isu kekerasan terhadap perempuan tapi baru PART 1!! Hehe. Topik ini bakalan panjang banget kalau mau dibahas.. Nanti lain kali aku bakalan ngepos topik-topik lainnya yang berbau kesetaraan gender. Semoga berguna bagi kalian semua dan ingat: laki-laki dan perempuan itu setara, tidak ada yang lebih tinggi derajatnya daripada yang lainnya. Perlakukan lawan jenis dengan setara😊😊

Minggu, 30 April 2017

Gimana Caranya Lolos Tes Masuk PTN?

Mungkin ratusan ribu peserta SBMPTN tiap tahunnya menanyakan hal tersebut. Sebelumnya, gue juga bertanya-tanya bagaimana caranya biar bisa lolos? Bayangkan dari ribuan pesaing cuma hitungan jari sampai puluhan yang diterima. Akankah kita harus berotak super jenius dan mendapatkan ranking tertinggi di tryout terus menerus?

Memang secara statistik, orang yang biasa dapat nilai tertinggi di bimbel biasanya akan lolos SBMPTN. Akan tetapi, tidak semuanya karena ada satu faktor yang menentukan, yaitu keberuntungan. Apakah kalian di hari ujian akan dapet paket soal yang susah atau yang gampang?

Maka dari itu ada banyak orang yang belajarnya biasa aja sampai gak belajar sama sekali tapi lolos SBMPTN, itu karena faktor force majeure ini, faktor yang diluar kuasa kita. Entah kita bakal dapat soal susah atau gampang, banyak-banyak berdoa aja, ehehehe.

Skor kamu cuma 36%? Kamu tetep bisa ketampung kok dengan syarat nilai yang lainnya tidak banyak yang lebih tinggi.

Terus nggak dapet SBMPTN bukan berarti gak pintar lho. Anggap aja kuotanya 8, kamu ranking ke 9. Kamu nyaris masuk bukan?

Oleh karena itu tips yang pertama adalah pintar-pintar memilih urutan prioritas berdasarkan jurusan atau PTN. Passing grade bimbel itu semuanya karangan kok, cuma kalian boleh ngejadiin itu patokan. Atau liat aja ketetatan daya tampung tahun lalu sebagai patokan kalian dalam membuat prioritas.


Yang kedua adalah capailah nilai setinggi-tingginya, kalo passing gradenya 50, capai nilai 60 biar kemungkinan kepotong kuotanya kecil.

Fakta: Semakin tinggi nilai kamu semakin dikit kembarannya.

Karena dalam hasil simulasi SBMPTN 2016, terlihat dari 3000 orang urutan nilainya adalah kira-kira sebagai berikut:


50
49
48
47,5
47
46,
45,5
45
dst..

Walau nilai tertingginya 50, tapi nilai 40 pun masih masuk dalam kuota 20 orang.
Lalu semakin kebawah, jarak antar nilai semakin tipis seperti

38
37,9
37,8
37,7
37
37
37
37

Bahkan semakin kecil, semakin kembaran nilainya makin banyak hingga berjumlah ratusan.
Jadi jika nilaimu kecil, besar kemungkinan kamu untuk terpotong kuota. Misalnya nilai kamu 35, tapi karena nilai 35 banyak kembarannya, seseorang diluar sana ada yang nilainya 35 juga tapi dia dapet. Nyzk kan? Oleh karena itu banyak yang gak belajar tapi dapet SBMPTN, karena mereka beruntung, hehehe.

Kalau ingin aman, mendingan belajar :)

Cara belajar orang beda-beda kok. Ada yang harus fokus serius, ada yang gabisa natap buku doang bisanya belajar lewat video youtube atau internet (which is me), ada yang harus latian soal berkali-kali, ada yang harus nonton drama korea dulu it is up to you, sakarepmu weh! Gue juga pas intensif ga les sama sekali kok karena bikin ga fokus. Namun ada juga yang harus les. Banyak banget nget nget nget temen gue yang IPA tapi keterima di jurusan IPS bonafid, mulai dari IPA yang pinter sampe IPA yang santai nyerempet nyerempet males, semua bisa masuk jurusan impian di IPS. Dari anak IPA yang ngerjain matdasnya 11 dan soshumnya dikit, sampe anak IPA yang ngerjain matdasnya cuma 1 dan soshumnya full, macem-macem. Ada yang lolos karena belajarnya pake zenius, ada yang belajar bener-bener cuma 2 minggu, bahkan cuma 3 hari belajar doang pun ada. Proses boleh macem-macem, yang penting tujuan akhirnya sama :D

Cuma pada tahu kan kalau penilaian SBMPTN itu bukan pakai ranking persentase tapi pakai nilai nasional dari skala 0-1000?

Yup, jadi nilai persentae itu sebenernya cuma nilai mentah aja. Ntar nilai mentah kalian bakal diolah pake rumus simpangan baku sehingga didapatkanlah nilai berskala 0-1000 yang berkeadilan. Wkwkwk. Terus gue juga pernah dikasih tau kalau nulis "Saya mengerjakan soal dengan jujur + tanda tangan" itu nilainya ditambah 200 apa 250 gitu(?) gak tau bener apa nggak tapi moga-moga bener yaa. Makanya jangan dianggurin itu kolom kejujuran. Oiya kalau mau tau nilai nasional kalian dan perkiraan kalian lolos dimana, bisa diitung di website quick count yang biasanya diadain sama bimbel.

Soal susah juga gak menjamin kalian gak lolos, karena kalo soalnya lagi susah, passing gradenya jadi kecil, sebaliknya kalau soal lagi gampang passing gradenya jadi tinggi :)
Jadi bisa kok masuk kedokteran UI atau STEI ITB dengan skor 45% kalau soalnya lagi susah HEHEHE :D

Yang terakhir, banyak-banyak berdoa! :)
Makan yang sehat sampai naik 6kg juga gak papa (?)

Saat kalian masuk kuliah, kalian akan bertemu ribuan orang dengan cerita berbeda-beda dan cara masuk yang berbeda-beda, semuanya belum tentu sama dengan kalian :)

Tidak usah minder jika sudah diterima dan merasa belum mampu, karena tempat kuliah lah yang akan menempa kalian dari orang yang tidak mampu menjadi orang yang lebih baik lagi! So semangat guys!

SBMPTN:The Gate To My University Life PART 2

Tidak terasa sudah 9 bulan gue menelantarkan blog ini! Bentar-bentar, gue beberes blog dulu ya biar gak banyak debunya gini.

*hush hush hush*
*kemudian mengusir gembel yang udah mulai tidur-tiduran di blog* ahahaha


Okee mungkin banyak dari kalian yang udah MENANTI kelanjutan kisah gue sejak 26 Juli yang lalu bukan? Seperti apa lanjutannya? Bagaimana kesiapan gue menunggu pengumuman SBMPTN? Apakah gue diterimaa? Eaaaaaa..

Sepulang dari SBMPTN gue udah makan sekenyan-kenyangnya. Karena gue tipe yang stress-eater, berat badan gue naik 6 kilogram! Edan wkwk.

Gue buka HP, nanya-nanya ke temen, nanya soalnya gimana susah gak? Pada jawab susah. Bahkan Tes Kemampuan Dasarnya dibilang susah sama anak IPA. Saat itu gue udah bener-bener bodo amat dan ga berharap diterima. Ekspektasi gue 0%.

Hari itu hari Selasa, 31 Mei 2016. Lima hari lagi SIMAKUI. Gue kembali membaca buku kuning, tapi otak gue gak bisa mencernanya, kayak gue udah 3 MINGGU full belajar dan otak gue udah tahap kenyang. Akhirnya di detik itu gue memutuskan "Udah gak usah belajar lagi ah capek, mending main sama nonton aja".

Iya guys, setelah 3 minggu belajar dan dikecewakan oleh SBMPTN gue malah jadi nggak bernafsu untuk belajar lagi. Betul-betul nggak mampu.

Lalu beredarah kunci jawaban SBMPTN dari tempat les, Gue sebenernya mau bodo amat gak mau ikutan ngitung nilai, tapi gue kepo juga sih. Akhirnya gue hitung bagian TKPA saja, wah ternyata gue banyak banget salahnya euy. Bahkan ada soal yang sebenrnya luar biasa gampang bahkan sekedip pun udah ketauan jawabannya, cuma karena gue lagi jelimet dan pusing, soal tersebut jadi terkesan sulit dan gak ketemu-ketemu jawabannya. Setelah gue hitung-hitung, skor gue untuk TKPA 29%.

Hmmm gue gak berani sih ngitung nilai soshum, takut rendah diri. Akhirnya gue kira-kira aja, anggap aja gue betul semua 47 soal, berarti skor soshum gue 78%.. Hmm gak jatuh-jatuh amat sih sama tryout, biasanya yang 78% TKPA dan yang 29% soshum sekarang kebalik, itung aja tuh berapa skor totalnya. Heheeheh gue lupa sih kayanya sekitar 46% gitu deh??

~~~~

Nah sebelum SIMAK UI, gue tuh bener-bener main doang kerjaannya.

Hari SIMAK UI pun tiba, gue SIMAK di sekolah yg cuma sekitar 1 km dari rumah, jadi gue jalan kaki. Disitu ternyata isinya gak cuma anak Depok aja, gue malah kenalan sama anak Jambi hehehe.


Seperti yang legenda katakan, soal SIMAK UI lebih susah dan pengawasannya lebih ketat. Ternyata itu nggak benar kawan-kawan, pengawas SIMAK UI adalah mahasiswa UI, dan soal keketatan pengawasnya tergantung individu mahasiswa tersebut. Kalo kelas gue, SIMAK UI ternyata gak se-strict SBMPTN, Terus soal SIMAK juga nempel gitu sama LJKnya, jadi LJK nya disobek di pojok kanan atas. Agak-agak takut gitu sih, takut kalo nanti LJK gue rusak. Gue suka parno gitu kalo LJK gue tergelincir terus hilang dan gak kekoreksi :(

Dan pas dibaca soalnya.. wah ternyata susahan SBMPTN, terutama TKPAnya. Ini bener-bener mirip tryout biasa. Plus gak ada tes potensi akademik, adanya cuma matdas, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris dan soshum. Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggrisnya pun mirip kayak soal UN alias gak bikin berkerut-kerut gitu keningnya. In the end, gue Bahasa Inggris dan Indonesia isi semua, matematika isi 1, soshumnya gak banyak diisi karena kebalikannya SBMPTN, disini soal soshumnya lebih susah dan gak bisa dinalar :(


Habis SIMAK udah deh byaar kelar. Gue seneng-seneng, apalagi besoknya puasa juga kan :)

Puasa 2016 gue bener-bener rajin ibadah, rajin teraweh, ngaji tiap hari, gak macem-macem. Soalnya hati gue banyak gak tenang gitu. Gue juga rajin nonton film tiap hari. Yaaa gue punya waktu 3 minggu sebelum menunggu pengumuman.

~~

Selasa 28 Juni 2016

Hari H pengumuman pun tiba. Saat itu gue lagi nonton film Schindler's List. Siang-siang langit kelabu dan mendung. Gue tidur-tiduran dengan dada sakit dan sekujur tubuh lemes. Jujur gue gak pernah seanxiety itu seumur hidup. Dada gue bener-bener sesek dan tubuh gue lemes gak bisa bergerak. Apalagi cuaca mendung dan soundtrack pilunya Schindler's List kebayang-bayang. Gue lagi mempersiapkan mental untuk melihat layar merah dan membaca "Mohon Maaf" untuk yang ketiga kalinya setelah SNMPTN dan PPKB...

Jam 2 Siang, pengumuman SBMPTN dibuka di laman resmi dan mirror page SBMPTN.

"Berarti hasil gue udah ada nih." pikir gue. "Jawaban salah gue juga udah diperiksa.. ahahah.. kapan ya gue siap untuk melihat layar merah itu" Pikir gue yang tidak ingin segera membuka pengumuman.

Gue maunya buka sore-sore aja bareng orang tua gue.

Terus ayah gue SMS ngasih tau kalo beberapa temen ada yang diterima di PTN terkemuka dengan jurusan terkemuka. Jujur gue agak lega sedikit, soalnya temen gue ini adalah yang cerita sama gue kalo pas SBM dia ngisinya dikit banget karena soalnya susah.

Tapi tetep gue bukanya sore hari, bersama orang tua gue, menjelang buka puasa. Layar HP agak diarahkan ke Mama gue. Gue gak berani melihatnya.

Alhamdulillah, cendol mateng. Ternyata gue diterima

~~~

Ehehehe

Di post berikutnya gue akan ceritain tips-tips SBMPTN yang gue dapetin dari temen-temen kampus gue setelah setahun kuliah.
Tipsnya mudah kok, dan kalian gak perlu pintar untuk bisa mendapatkannya. Semangaat!


Selasa, 26 Juli 2016

SBMPTN: The Gate of My University Life

"Lu mau jadi apa?"
"Jadi diplomat." Gue selalu menjawab mantap.

---------

Siang itu tanggal 11 Mei 2016, pengumuman SNMPTN undangan dipercepat satu hari. Gue sedang sendirian di rumah, di ruang komputer yang gelap dengan udara yang agak dingin. Satu jam lagi tepat pukul 13.00, pengumuman SNMPTN akan bisa dilihat.

"Alhamdulillah UNPAD."
"Alhamdulillah UNSOED."
"Alhamdulillah UNBRAW."
"Alhamdulillah Hukum UI.."
"Alhamdulillah Administrasi Negara UI.."

"Selamat yaaa..."

"Lo sendiri gimana hasilnya, Mon? Kok lo belum buka?"

Gue tidak menjawab. Gue terlalu takut. Meski begitu, gue lumayan percaya diri. Banyak temen-temen gue yang out of nowhere diterima di UI (padahal gambling, udah gitu di jurusan yang belum pernah ada alumninya pula). Temen-temen gue yang kerjanya nongkrong nyantai juga banyak yang diterima, apalagi gue lah. Ranking 8 paralel, nilai UN bagus, ada 2 orang alumni jurusan impian gue, dan saingan cuma 1. Masuk akal lah kalau gue dan saingan gue bakal diterima. Udah gitu, nilai rapor gue juga pernah bikin gue lolos seleksi pertama Beasiswa Mitsui Bussan. Dari ribuan anak IPS yang ngirim nilai rapor, gue terpilih bersama 20 anak lainnya. Orang Jepang aja milih gue, apalagi kampus Indonesia ini.

Gue tulis nomor SNMPTN gue. Klik.


------


Gue refresh berulang-ulang laman pengumuman SNMPTN. What the heck? Layar merah itu menatap gue bisu. Menertawakan kesotoyan dan kepedean gue selama ini. Emang enak? Dia mengejek dalam keheningan. Gak minta maap lagi.

All the myth is proven to be truth.

SNMPTN is freaking unpredictable. Iseng-iseng berhadiah, kalo kata guru les gue. Temen gue ada yang nilai UN kecil, alumni gak ada, ranking di bawah gue, tapi lolos UI. Ada pula temen gue yang udah paralel ranking 2, nilai UN tinggi banget, ada alumni, tapi belum lolos. Ada yang prestasi udah banyak banget, nilai UN tinggi banget, tapi ditolak mentah. Gue juga ditolak mentah, sampai pilihan terakhir.

--

H-3 minggu menjelang SBMPTN. Kalo gue gak berbuat sesuatu, dijamin gue bakal NGANGGUR tahun ini.

***

Semua orang pasti punya cita-cita mau ngapain setelah lulus SMA. Kalau mau aman sih kuliah, karena itu semacam investasi buat masa depan. Kalau berani atau nekat sih bisa aja nerusin usaha orang tua, atau kerja kecil-kecilan dari nol. Malah ada yang dijodohin sama pria desa seberang. Tapi lagi-lagi, yang paling aman ya meneruskan pendidikan. Kuliah itu udah keputusan terbaik. Segala macam cara dilakukan untuk mencari uang agar bisa membiayai kuliah. Karena setelah lulus diharapkan kalian menjadi sukses, dan uang yang "diinvestasikan" di awal bisa "balik modal" buat orang tua kalian.

Karena gue anak Depok asli, gue gak pengen kuliah jauh-jauh. Gue pengen kuliah di kampus yang tiap hari Minggu jadi tempat jogging gue. Apalagi, SMA gue sangat berorientasi sama kampus ini. Dari jaman kelas 1 atau 2 SMA, segala macem acara kampus ini diikutin rame-rame ama anak-anak sekolah gue. Termasuk gue. Well, that's my dream. We all must have a goal in life, innit?

Dari bulan November, sekolah gue udah kerjasama dengan bimbel untuk ngadain try out SBMPTN setiap hari Sabtu di sekolah, selang seling dengan pembahasan soal-soal yang dibimbing oleh guru dari bimbel tersebut. Setiap try out, kakak-kakak berjaket kuning (asli UI, bukannya dipinjemin jaket) jadi pengawas di sekolah gue. Gue rajin ikut try out ini (bimbelnya emang tempat bimbel gue sih) sampai 8 kali, total 4 bulan. Gue ikutin semua pembahasannya. Nilai-nilai tryout gue juga okelah, normal. Mengingat gue gak belajar sama sekali buat try out.

Setelah Ujian Nasional berakhir, gue mulai santai. Kerjaannya udah streaming film terus. Belajar cuma di bimbel doang, sampai di rumah gak pernah nyentuh buku lagi. Dan itu berlangsung selama sekitar 3 mingguan. Akhir dari masa leha-leha gue adalah saat gue melihat kotak kecil berwarna merah yang terbahak-bahak di layar HP gue.

***

Buku kuning mulus karya Muhammad Doddy AB itu akhirnya gue buka lagi, setelah terakhir kalinya gue buka kira-kira H-seminggu UN. Gue memutuskan untuk menghabiskan buku ini kembali, gue baca ulang dengan detail hingga hafal dalam waktu 4 hari (iya, pas jaman-jaman ini, apapun yang gue lakukan gue targetin. Harus udah selesai jam berapa. Karena gue sadar, waktu gue cuma 21 hari menjelang SBMPTN. Belum kepotong beberapa urusan seperti milih baju buat perpisahan SMA). Dari pagi gue melek sampai gue merem lagi, gue gak keluar rumah. Gue resapi apapun yang tertulis di buku itu. Kalo ada istilah yang menarik, atau penjelasan yang tanggung langsung gue google (kadang gue screen capt pula). Kadang-kadang, gue sekalian klik-klik informasi lain yang ada di google, kali aja keluar di tes. History Youtube gue mendadak berisi video-video pelajaran.

Gue menghubungi beberapa teman yang lolos SNMPTN demi meminta buku SBMPTN mereka daripada mubazir. Akhirnya gue punya total 3 buku SBMPTN yang masih kosong nan mulus. Rencananya, gue mau ngerjain semua paket yang ada di buku itu (sekitar 27 paket wkwk). Saking gue merasa akan terbatasnya waktu untuk memahami teori dan mengerjakan seluruh 27 paket yang ada, gue sampai gak sempet les SAMASEKALI. Intinya gak sempet ngapa-ngapain kecuali mampir ke rumah temen yang pinter minta diajarin matdas (padahal sebenernya puyeng, lagi pengen keluar aja). Untungnya bimbel gue punya software semacam kumpulan soal ujian dan video penjelasan teori. Gue tonton semua videonya sampai ngerti. Dan untuk matdas, gue sempatkan selama 3 hari full ngerjain soal-soal matdas (sambil liat kunci sih). Gitu aja terus sampai otak ini mendidih.

Hingga akhirnya gue sadar....


PERCUMA JUGA YA PUNYA 3 BUKU, WONG BEBERAPA PAKET JUGA BANYAK YANG SAMA PERSIS SOALNYA. Pesan moral: Gak usah beli banyak-banyak buku SBM. Udah, minta aja ke temen yang lolos undangan.


Target gue juga gak tercapai-tercapai amat sih, gak sampai 27 paket gue selesaikan (karena gue banyak tidurnya, it's bloody tiring). Pokoknya target gue, H-4 SBMPTN gue udah selesai ngerjain paket-paket soal. Gue harus udah tinggal review buku kuning lagi supaya ingatannya makin melekat.

And the D-Day has come...


***

31 Mei 2016, di Universitas Gunadarma, gemetar gue melangkah di antara ribuan anak-anak seumuran atau lebih tua beberapa tahun dari gue. Buku saku warna abu-abu yang berisi soal dan jawaban TPA gue buka-buka. Yup, otak gue udah tidak mampu lagi belajar pelajaran biasa. The last thing I did was trying to master TPA.

Gue duduk literally di depan wajah pengawas. Jam (literally) karet yang gue simpan di saku patah. Satu malaikat gue tidak berfungsi dengan baik hari itu. Maka, dengan tegang gue duduk, kemudian mulai membuka soal TKPA.

Bloody hell....

INI JENIS SOAL APAAN YA? Baru banget wow. Gue gak pernah nemu tipe seperti ini beberapa tahun belakangan. Ada gitu soal tentang hubungan sebab akibat, tetapi dengan bahasa yang super rumit dan ambigu. Karena ini tipe soal baru, gue sama sekali gak bisa memahami logika si pembuat soalnya. Jadilah daripada kosong gue isi aja 2 yang (menurut gue) mungkin bener. Lanjut ke soal berikutnya, figural. MAKIN EDAN. Figuralnya bener-bener gak segampang yang ada di tryout-tryout. Bener-bener SUSAH.

Selama tes SBMPTN, gue bengong, alesannya karena soalnya bikingue bener-bener pusing, lemes, laper. Gue gak mampu berpikir jernih. Saat itu gue sama sekali gak ada perasaan kalau gue sedang benar-benar mengerjakan soal SBMPTN. Perasaan gue itu cuma tryout semata. Karena bukannya mikir malah bengong, gue saat itu bener-bener yakin kalau tahun depan, gue akan KEMBALI mengerjakan soal SBMPTN. Gue yakin gak bakal lolos.

Sementara pengawas masih sibuk dengan gadgetnya, gue melirik jam karet putus gue. Tidak terasa waktu tinggal 45 menit lagi. Soal kemampuan dasar masih kosong melompong. Buru-buru gue coba isi soal matdas. Ada gitu tentang lingkaran, gue udah coba cari-cari bermenit-menit GAK ADA JAWABANNYA. Huft, untung ada satu tentang persamaan yang gampang banget. Jadi matdas gue cuma keisi satu.

Gue berpaling ke Bahasa Indonesia. Bibir gue yang kering mulai berdarah, dan darahnya berceceran di jari-jari gue. Dengan menahan sakit karena keringnya bibir, badan gue juga lemes baca soal Bahasa Indonesia. Aiyaaa, it's nothing like tryouts! RANCU PARAH, kayak, apa-apaan soal ujian masuk PTN masih ada aja soal yang jawabannya bias/pendapat? Tapi daripada LJK sepi, gue isi lumayan banyak. Gue berpaling ke Bahasa Inggris, MAKIN SUSAH AJA YA GUSTI. Tetapi karena gue panik dan lupa dengan adanya sistem minus, gue isi LUMAYAN BANYAK.

Dan akhirnya, bel pun berbunyi!

Gue ketawa-ketawa pasrah pas keluar dari kelas. Ya udahlahya, paling juga gak dapet. Ah, masih ada SIMAK UI ini. Ah, masih ada tahun depan ini. Gue tertawa getir.

Setelah selesai istirahat, dengan perut kenyang gue bersiap-siap menerima soal soshum. Hati gue lebih tenang dan badan gue tidak selemas tadi.

---

Begitu soal soshum dibagikan, gue udah siap-siap akan kegagalan gue yang berikutnya. Dengan hati-hati gue membuka soalnya.

Alhamdulillah, puji Tuhan. Soal-soal SOSHUMnya gampang banget! Saking gampangnya, gue jadi curiga jangan-jangan guenya yang ge-er atau sok tau? Soalnya betul-betul tipikal soal yang biasa gue kerjakan di try out atau buku latihan. Emang ada yang gue gak tahu jawabannya sih, tapi jawaban aslinya mudah ditebak/dikira-kira. Gue jadi curiga, jangan-jangan ini semua cuma jebakan?

Tetapi gue inget, paling juga gue gak dapet. Ibaratnya ya udah kepalang tanggung, isi aja deh yang banyak! Daripada kosong! Akhirnya gue berhasil mengisi sekitar 47 soal dari 60. Masih ada sisa waktu pula, jadinya gue memeriksa lagi dan lagi. Gue pastiin yang gue jawab adalah benar, dan yang gue kosongin itu gue bener-bener gak tau/gak bisa dikira-kira jawabannya. Tetapi, perasaan gue, seluruh 47 soal yang gue isi itu benar semua.

Saat itu gue tidak berpikir, bahwa apabila gue mudah mengerjakan soalnya, bisa aja semua anak juga gampang mengerjakannya.

***

(to be continued)

Sabtu, 24 Oktober 2015

Dear (Future) Son

Hi Momma's boy!
Are you mad if I call you that way?
Don't worry, son. I'm not going to chase you, to keep you in my secret room. I am not going to take all your game consoles, turn the tv off at night, or forcing you to study like I always did.
Today is a different day. I just wanna tell you something.

Finally, you're 21. It's your time to read this message; a small letter from decades ago, the past me.

I just wanna thank that you were born. No matter what, it was glad to see you coming to this world. To see you laughing for the very first time. Carrying you, take you anywhere. Finally God gave me a prince of my own, my third savior of my life.
"May you grow bigger, greater. At size, in life, in anything." I said as you fell asleep in my arms.

It was glad to live with you for twenty one years. I finally realize how hard raising you could be. Someday when my time has come, you could be the first creature the God will ask my responsibility for. You could be my biggest mistake, my hardest responsibility. But you could be my savior from the naar: if you are responsible in life, always do the things I told you, and  always remember Him.

Now that you're mature enough, just go as far as you want, swim the farthest and find your destination. Take a lot of chance son, it could be just once in forever. Learn a lot of things: lesson might not come from what you want, God might not make your plan go as you wish, but surely He will make it go as He planned. Because He won't give you what you want, He will give you what you need.

And remember, do not, in million years, make a girl cry. You can freely be who do you wanna be, do anything you like. But put their safety first, please. Don't you dare in million years say a harsh thing to her, to beat her physically and emotionally, make her cry out loud or silently. Girls never forget son. She might say she has forgiven you, but she will never forget the way you have treated her. She will remember your name forever. She will do a great research about your past, secret and reason. Some of them choose to put you back in her situation, some will stay nice but put you in her black list. Don't you dare to start a cold war with a girl!

Son, whatever you have done in the past, I am proud of you. You are the man I will never unlove. You will always be in my prayer five times a day. There is eternal connection between me and you anyone could never break. Even death will never separate us.

Son, it's time for you to go. Make a promising future for your woman, pursue great career, learn a lot of things. Make your Momma proud!


Sincerely,
Mom.

Rabu, 15 Juli 2015

Japanese Drama Review: Boku No Ita Jikan

Hai semua! Seperti yang sudah saya katakan, akhir-akhir ini saya lagi suka nonton J-drama.
Iya J-drama,
Drama Jepang.

Ada beberapa alasan sih, salah satunya tertarik dengan budaya semangat bekerja orang Jepang.

Boku No Ita Jikan adalah drama Jepang yang baru selesai saya tonton. Saya yakin drama ini tidak abal-abal karena pemerannya adalah Haruma Miura. Miura adalah aktor muda Jepang yang berbakat dan biasa tampil di drama-drama terkenal. Selain itu, lawan main Miura adalah Mikako Tabe. Keduanya dulu pernah main bareng di drama "Kimi Ni Todoke".

Boku No Ita Jikan yang secara harfiah berarti "Waktu yang kumiliki" berkisah tentang seorang pemuda yang menderita penyakit ALS. ALS adalah penyakit gangguan saraf motorik yang belakangan ini menarik simpati masyarakat dunia dengan diadakannya ice bucket challenge.
Seperti apa kisah pemuda dalam Boku No Ita Jikan? Simak di bawah ini ya!


Judul: Boku No Ita Jikan (The Hours of My Life)
Genre: Melodrama, romansa, keluarga
Episode: 11
Tayang: Januari 2014-Maret 2014
Pemain:
Miura Haruma (Sawada Takuto)
Tabe Mikako (Hongo Megumi)
Saito Takumi (Mukai Shigeyuki)
Kazama Shunsuke (Mizushima Mamoru)
Yamamoto Mizuki (Murayama Hina)
Nomura Shuhei (Sawada Rikuto)
Hamabe Minami (Sumire)
Fukikoshi Mitsuru (Tanimoto)
Koichi Mantaro (Sawada Akio)
Asada Miyoko (Hongo Shoko)
Harada Mieko (Sawada Sawako)

Sinopsis:

Takuto Sawada adalah seorang mahasiswa tahun ke empat yang sedang sibuk mencari pekerjaan. Dia sibuk interview sana-sini, melamar sana-sini, hingga sudah puluhan lapangan kerja ia sambangi. Suatu hari di musim dingin, ia menunggu interview sebuah perusahaan bersama deretan pelamar lainnya. Di sebelah Takuto, duduk seorang gadis berponi yang gugup. Tiba-tiba ponsel gadis itu berbunyi cukup keras. Gadis itu takut untuk mengangkat ponselnya karena malu, jadi ia pura-pura tidak tahu. Akhirnya Takuto lah yang berdiri dan meminta maaf kalau ponselnya lupa dimatikan. Ia lalu berpura-pura mematikan ponselnya. Gadis di sebelahnya merasa telah diselamatkan dan harus berterima kasih pada Takuto.

Nama gadis itu Megumi, ternyata teman sekelas Takuto di kampus. Takuto dan Megumi pun menjadi teman baik. Mereka pergi ke pantai dan minum-minum, lalu menuliskan pesan di dalam botol dan menguburkannya di pasir sampai tiga tahun ke depan. Muncul pula tokoh Hina sahabat Megumi, dan Mamoru sahabat Takuto yang diam-diam juga saling dekat. Ke empat anak muda itu menjadi sahabat. Mereka sering kumpul-kumpul di rumah Takuto untuk makan sukiyaki dan membicarakan masa depan. Tidak hanya itu, muncul pula Shige Senpai, senior Takuto dalam klub futsal. Shige Senpai diam-diam ternyata menyukai Megumi.

Takuto juga memiliki keluarga yang selalu mendukungnya. Ayahnya adalah seorang dokter pemilik rumah sakit terkenal di Yamanashi. Takuto merantau ke Tokyo untuk kuliah, meskipun gagal masuk jurusan kedokteran impiannya.  Sementara itu, justru Rikuto adiknya yang berhasil masuk jurusan kedokteran. Tinggal berdua dengan adiknya di Tokyo, Takuto sering dianggap nomor dua oleh adiknya. "Kau merasa inferior ya dengan kemampuanku..." begitulah kata-kata polos namun meremehkan yang sering keluar dari mulut Rikuto.

Pada suatu hari, Takuto diterima bekerja penuh waktu di perusahaan furnitur. Tepatnya di bagian sales promotion yang bertugas menjelaskan keunggulan produk kepada pelanggan. Pokoknya Takuto sangat giat bekerja penuh waktu menjadi salesman. Penuh semangat ia mencari uang dengan menawarkan tempat tidur kepada pelanggan, meskipun kadang kala tangan atau kakinya bermasalah karena kram. Takuto juga beruntung karena ia dan Megumi akhirnya berpacaran.

Hingga pada suatu hari, Takuto merasa otot di tubuhnya semakin aneh....

-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Review:

Dari segi tema, sangat banyak drama yang mengangkat tema tentang penyakit. Khususnya ALS atau penyakit syaraf lainnya. Drama yang berlatar musim dingin ini menceritakan kehidupan Takuto sejak tubuhnya masih normal hingga ALS harus menggerogoti tubuhnya. Dalam penyakit ALS, pertama pasien sering kram, semakin lama ia tidak bisa mengangkat tangannya, lalu sering terjatuh tiba-tiba seperti yang dialami Takuto. Lama kelamaan, pasien ALS akan kesulitan bicara, makan, bahkan bernafas sehingga menyebabkan kematian. Namun ada juga pasien ALS yang bisa hidup sampai tua dan punya anak seperti Stephen Hawking. Namun pasien ALS yang sudah parah harus menggunakan kursi roda, ventilator, dan sensor yang terhubung dengan komputer untuk berkomunikasi.

Karena tahu bahwa umurnya mungkin tidak lama, dan kalaupun hidup pasti sangat merepotkan, Takuto akhirnya mundur dari Megumi dan memutuskannya secara tiba-tiba. Ia tidak ingin Megumi dan teman-teman terdekatnya tahu soal penyakitnya. Bahkan Takuto menghindari Megumi selama satu tahun lamanya seiring dengan perkembangan penyakitnya.

Teman-teman sekantor Takuto juga sangat suportif dengan penyakitnya. Di awal-awal penyakitnya, Takuto sering terjatuh ataupun menjatuhkan barang. Namun pemuda itu tidak lantas manja dan mengadu kepada atasan dan teman-temannya. Ia tetap berusaha profesional memasarkan barang-barang furnitur. Kuliah di luar kota, mendapat pekerjaan penuh waktu sebagai seorang salesman, Takuto tidak menganggap remeh pekerjaannya, juga tidak menganggapnya berat karena penyakit ALS. Bahkan sewaktu Takuto menjelaskan tentang penyakitnya kepada bos dan karyawan lain, karyawan lain semakin menghargai Takuto. Mereka membantu Takuto mendorong kursi roda, mengambilkan makanan, dan tidak mengolok-oloknya. Takuto malah mendapat posisi spesial yaitu sebagai desainer poster produk furnitur (karena engga bisa jalan).

Megumi, yang sudah setahun tidak bertemu Takuto berpacaran dengan Shige Senpai. Ia yang menyukai kegiatan-kegiatan sosial akhirnya bekerja penuh waktu sebagai seorang careworker. Megu merawat orang-orang lanjut usia, atau penderita penyakit-penyakit berat. Dengan telaten, ia juga merawat salah seorang pasien ALS.

Kisah tidak hanya berputar soal Takuto dan penyakit ALS. Ada juga kisah tentang Rikuto, adik Takuto yang mahasiswa kedokteran. Karena terbiasa dipuji dan dimanja ibunya, Rikuto tumbuh menjadi orang yang kurang biasa bersosial. Ia sering mengeluarkan kata-kata yang tanpa sadar, bisa menyakiti orang lain. Rikuto juga sangat kaku dan penakut. Hingga suatu hari, ibunya dari Yamanashi datang karena sudah 2 bulan Rikuto bolos kuliah...

Apa yang terjadi dengan Rikuto?
Yang jelas, sejak itu pencarian jati diri Rikuto dimulai.

Drama ini berisi tentang kisah kedekatan antar keluarga, kasih sayang antar teman dan rekan, romansa, dan juga perjuangan hidup. Digambarkan, Takuto sangat takut untuk hidup dalam kondisi seperti itu. Ia sendiri juga tidak mau mati karena tidak ingin memberi rasa kehilangan bagi orang yang membutuhkannya. Selain itu, drama ini juga berpesan kepada penonton untuk memilih pilihan hidup yang paling sesuai dengan hati mereka.

Saya belum pernah menonton akting Mikako sebelumnya, tapi dia pas dan natural banget memerankan sosok Megu yang telaten serta penuh perhatian. Sedangkan Miura, sebelumnya pernah nonton dia di drama Koizora dan 14 Sai no Haha. Seperti biasa ada karisma tersendiri dalam tatapannya Miura. Karisma orang yang sedang "memendam masalah" dan karisma orang yang "memiliki penyakit". Walaupun beberapa tokoh tampak agak jahat, dalam drama ini sama sekali nggak ada tokoh antagonis. Pokoknya nggak ada yang namanya "terlalu jahat" ataupun "baik dan tertindas".
Dari segi musik, drama ini diiringi dengan backsound yang bagus, cocok untuk melodrama kayak gini. Soundtrack yang dibawakan Rihwa dan Yuzu juga sangat J-Pop. Semakin mendukung tema yang diusung.

Hanya saja saudara-saudara, endingnya mengecewakan. Nggak ada sesuatu yang wow banget di endingnya (semua yang wow dikumpulin di episode sebelumnya). Gitu-gitu aja, lebih datar daripada episode sebelumnya malah. Udah gitu, saya enggak puas sama adegan terakhirnya. Masih penasaran apa yang akan terjadi berikutnya.
Singkat kata, harusnya ada 1 episode lagi :D


Rating: 4/5

Selasa, 14 Juli 2015

Japanese Drama Review: Orange Days

Akhir-akhir ini saya demeeen banget nonton drama Jepang. Nggak tau kenapa, ada efek yang berbeda setelah nonton film-film Jepang (bahkan horor sekalipun). Ada rasa semangat yang tiba-tiba tumbuh gitu deh. Aneh ya, barangkali semangatnya orang Jepang itu menular meskipun cuma lewat film.

Title: Orange Days (γ‚ͺレンジ デむズ)
Episodes: 11
Writer: Eriko Kitagawa
Music: Naoki Sato
Casts:
Satoshi Tsumabuki as Kai Yuuki
Kou Shibasaki as Sae Hagio
Hiroki Narimiya as Shohei Aida
Miho Shiraishi as Akane Ozawa
Eita as Keita Yashima
Manami Konishi as Takagi Maho
Jun Fubuki as Yuriko Hagio
Takashi Kashiwabara as Sano
Ikki Sawamura as Haruki
Ueno Juri as Ayumi Kirishima
Yu Yamada as Soyoko Saeki
Fumiyo Kohinata as Kyouju Sakaida

Sinopsis:

Kai Yuuki adalah mahasiswa jurusan Psikologi Kesejahteraan Sosial di Universitas Meisei, Tokyo. Kai bersahabat dengan Shohei yang bad boy dan Keita yang cenderung culun. Tetapi ketiganya kompak. Hidup Kai makin lengkap karena sudah 3 tahun pacaran dengan Maho, perempuan yang lebih tua darinya.
Sadar kalau masa kuliahnya akan berakhir, Kai sibuk mencari-cari pekerjaan, interview sana-sini, dan beberapa kali ditolak. Di tengah-tengah usahanya, Kai bertemu seorang gadis muda yang sedang bermain biola. Kai terpesona dengan permainan gadis itu. Setelah memainkannya, gadis itu meminta bayaran dari Kai dengan cara yang kasar. Ternyata gadis itu tuna rungu. Karena tidak memiliki uang, Kai akhirnya membayar gadis itu dengan buah jeruk yang ia dapatkan dari sahabatnya.

Suatu hari, Keita, sahabat Kai, janji untuk kencan buta dengan Sae, si pemain biola it. Karena Sae  ternyata tuna rungu, Keita pun mundur dan menyerahkan Sae pada Kai.  Untunglah Kai mempelajari Bahasa Isyarat di mata kuliahnya, sehingga mudah berkomunikasi dengan Sae.

Sae telah tuna rungu sejak 4 tahun yang lalu. Awalnya Sae gadis yang menyenangkan, populer, karismatik. Ia pernah belajar musik di luar negeri, dan sempat pandai bermain piano dan biola. Namun semenjak tuna rungu, gadis itu berubah drastis. Ia merasa depresi dan sering bertanya-tanya kepada Tuhan, mengapa harus ia yang tuna rungu?
Sae menjadi kasar dan egois setelah ia tuna rungu. Ada banyak hal yang tidak bisa ia lakukan dan  membuatnya depresi. Tidak jarang ia melawan orang yang berusaha mengganggunya. Sebetulnya di dalam hati, ia hanya kecewa pada dirinya sendiri yang tidak bisa memuaskan orang di sekitarnya. Ia juga tidak ingin orang-orang kerepotan karenanya. Sae tidak ingin dianggap sebagai gadis "cacat" yang merepotkan orang lain.

Sae pun semakin dekat dengan Kai. Selain Kai, Sae juga bersahabat dengan Akane, yang bisa berbahasa isyarat karena tergabung dalam klub bahasa isyarat. Dan kebetulan.... guru di klub bahasa isyarat itu adalah.. Maho! Pacarnya Kai.

Sae dan Akane berkenalan dengan Shohei dan Keita. Benih-benih cinta mulai muncul diantara mereka. Akane yang polos mulai dekat dengan Shohei si bad boy, Keita yang lugu dan penuh semangat mulai naksir Akane. Sementara itu, Kai dan Sae semakin dekat. Hal ini menimbulkan kecemburuan Maho, pacar Kai. Maho pun curhat dengan teman lamanya, yaitu Sano, cowok mapan, lebih tua, dan bertindak lebih dewasa ketimbang Kai. Hubungan antara Kai dan Maho mulai terganggu disini...

Suatu hari, Keita datang dan membawa sebuah buku berwarna oranye. Di buku itu, Keita, Kai, Shohei, Akane, dan Sae bisa menulis apa saja yang ada di hati mereka. Buku itu disimpan di dekat tempat nongkrong mereka. Dan semenjak saat itu, lima sekawan ini tergabung dalam grup "Orange no Kai" alias "Orange Society".

-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Review:

Drama ini bagus banget! Semenjak nonton episode pertamanya, saya sudah yakin kalau ini drama bagus. Tiap satu episode habis ditonton, saya selalu gak sabar untuk nonton episode berikutnya. Pokoknya kisah hidup Sae, Kai, dan Orange Society di film ini berhasil membuat saya ketawa, terharu, berpikir, memperbaiki diri, dan lebih semangat dalam hidup. Dalam beberapa hal, Kai Yuuki mirip dengan Asou Haruto dalam drama 1 Liter of Tears. Kedua cowok itu sama-sama hadir untuk mensupport peran utama cewek yang memiliki keterbatasan.  Haruto mensupport Aya yang punya penyakit Ataxia. Sedangkan Kai mensupport Sae yang tuna rungu. Hanya saja, pembawaan Kai lebih hangat dan ceria ketimbang Haruto yang cenderung jutek dan dingin. Keceriaan, kehangatan, dan kesabaran Kai mampu mengimbangi pribadi Sae yang cenderung tidak sabar dan pemarah. Bayangin aja, Sae berkali-kali ngambek dan ngomelin Kai, tapi Kai tetep sabar dan setia membimbing Sae seakan-akan dia anak kecil.

Jujur aja saya paling males menonton drama yang ada karakter oh-so-perfect-personnya. Saya lebih suka karakter orang yang imperfect, punya kekurangan menonjol. Maka dari itu saya suka banget sama karakter Sae yang keras kepala, egois dan tidak sabaran itu. Walaupun begitu, Sae sebenarnya menyenangkan sekali kalau tidak depresi! Dia imut, lucu dan suka bercanda. Tidak ada yang bisa menolak permintaan Sae. Oleh karena itu, ia dijuluki Hime-Sama alias Tuan Putri oleh Orange Society. Uniknya, Sae tidak suka dianggap spesial seperti itu. Ia ingin dianggap normal oleh orang-orang. Ia bahkan pernah marah saat anggota Orange Society belajar Bahasa Isyarat demi dirinya. Pernah juga ia memarahi Kai karena menggunakan bahasa isyarat dengannya di tempat umum. Sae hanya tidak ingin ditertawakan dan diremehkan orang-orang...

Karakter Kai emang idaman banget disini. Ia ingin bisa memahami orang-orang yang memiliki keterbatasan, sehingga ia mengambil kerja sampingan di sebuah panti rehabilitasi. Disana, Kai dengan sabar membimbing nenek-nenek untuk berjalan, seorang anak berpenyakit untuk bisa sembuh melawan penyakitnya.

Saya juga suka ketika Kai dan Sae lagi berinteraksi. Mereka itu lucuuuu banget. Karena Sae juga tunawicara, maka ia memanggil Kai dengan cara melempar sesuatu ke arahnya, misalnya sepatu. Kai pun juga begitu, pernah ia memanggil Sae dengan melempar... handphonenya! Hahaha..
Mereka berdua juga nggak romantis-romantis banget, sering mereka berdebat ataupun berantem. Tetapi habis itu baikan lagi kayak nggak pernah ada apa-apa. Sae juga pernah nendang Kai, sementara Kai pernah ngomel-ngomelin Sae dengan bahasa isyarat. Pokoknya mereka berdua sering berantem, tetapi sebenarnya saling menyayangi. Setelah bertengkar, keduanya pun akur lagi. Kai entah kenapa selalu ingin ada di sisi Sae dan sangat mencemaskan keadaan gadis itu tanpa dirinya.

Orange Days menceritakan kehidupan realistis sebuah persahabatan di kampus. Sekelompok mahasiswa yang akan lulus dan segera menghadapi dunia. Tetapi fokus yang paling utama, tentu tentang seorang gadis tuna rungu pemarah yang depresi karena nasibnya. Beraneka macam kegagalan dan ancaman kehidupan menghantui Sae yang tuna rungu, namun Kai selalu di sisinya untuk mendukungnya.

Naoki Sato sang kompser menyajikan banyak backsound orkestra yang sangat merdu dalam drama ini! Coba cek disini dan buktikan.
Saya sukaaa banget sama akting Kou Shibasaki disini. Begitu ekspresif dan menjiwai, pun ikut menyatu dengan karakter Sae. Saya bisa ngerasain, di awal-awal episode, Kou bener-bener kerasa banget sifat dingin+pemarahnya. Semakin lama, Kou betul-betul terlihat lebih lunak dan lembut. Kou juga sangat menyatu dengan Tsumabuki, kayak orang betul-betul pacaran di dunia nyata. Maksud saya, mereka nggak ada adegan romantis yang sedih menye-menye kayak di drama-drama lain.. haha

Saya juga sukaaaa banget dengan endingnya. Ending yang emuaskan dan nggak meninggalkan pertanyaan. Sempat kebawa sedih sih, cuma saya nggak menangis karena karakter di film ini enggak ada yang menye-menye.

Rate: 5/5